Masukkan email untuk menerima notifikasi jika ada artikel/acara/destinasi terbaru.
Kampung Adat dan Megalitik Padabar: Pesona Warisan Leluhur di Jantung Sumba Tengah
Di tengah bentang alam perbukitan Pulau Sumba yang eksotis, berdiri sebuah kampung adat yang menyimpan jejak panjang peradaban megalitik Nusantara, yakni Kampung Adat dan Megalitik Padabar. Berlokasi di Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana Selatan, kampung adat ini menjadi salah satu destinasi budaya paling unik di Kabupaten Sumba Tengah karena masih mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini.
Padabar bukan hanya sekadar permukiman tradisional, melainkan sebuah ruang hidup budaya yang memadukan arsitektur khas Sumba, kepercayaan Marapu, situs megalitik, hingga kisah sejarah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Keaslian budaya dan lanskap alamnya menjadikan Padabar layak disebut sebagai “living museum” budaya Sumba.
Kampung Tradisional di Atas Bukit
Kampung Adat Padabar berdiri di atas punggung bukit pada ketinggian sekitar 424 meter di atas permukaan laut dengan luas kawasan mencapai hampir 12 ribu meter persegi. Kawasan ini dikelilingi hutan dan pepohonan besar seperti kemiri, bambu, dan mahoni yang menciptakan suasana alami dan sejuk.
Keunikan lain terlihat dari pagar batu alami yang mengelilingi kampung. Susunan batu setinggi sekitar 1,5 meter tersebut menjadi penanda sekaligus pelindung kawasan adat sejak masa lampau. Kampung memiliki dua gerbang utama, yakni pintu selatan sebagai akses utama dan pintu utara yang terhubung menuju Kampung Praikomus.
Memasuki kawasan Padabar, pengunjung akan disambut deretan rumah adat beratap tinggi yang menghadap ke halaman utama kampung atau Talora. Di tengah halaman inilah berdiri berbagai peninggalan megalitik berupa dolmen, menhir, dan kubur batu yang menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat adat.
Keindahan Arsitektur Rumah Adat Sumba
Rumah adat di Padabar memiliki bentuk khas rumah panggung beratap menara tinggi yang menjadi identitas budaya Sumba Tengah. Atap yang menjulang menyerupai piramida melambangkan hubungan manusia dengan leluhur dan dunia spiritual.
Secara tradisional, rumah-rumah tersebut dibangun menggunakan kayu pilihan seperti kayu mayela, bambu, serta tali rotan tanpa menggunakan paku modern. Ornamen tanduk kerbau dan rahang babi yang dipasang di bagian depan rumah menunjukkan status sosial sekaligus simbol penghormatan terhadap leluhur.
Di Padabar, terdapat 19 pembagian lahan rumah adat, meskipun saat ini baru sekitar 10 rumah yang berdiri. Beberapa rumah memiliki fungsi sakral seperti Uma Marapu dan Uma Ka’hi, yang digunakan untuk ritual adat dan penyimpanan benda pusaka.
Tradisi Megalitik yang Masih Bertahan
Padabar dikenal sebagai salah satu kawasan tradisi megalitik berlanjut di Indonesia Timur. Keberadaan dolmen, sarkofagus, batu menhir, dan kubur batu menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Sumba masih menjaga warisan budaya prasejarah hingga kini.
Batu-batu kubur megalitik di tengah kampung tidak hanya berfungsi sebagai makam leluhur, tetapi juga simbol penghormatan terhadap asal-usul dan identitas masyarakat adat. Beberapa batu bahkan dianggap keramat dan tidak boleh diinjak karena dipercaya memiliki kekuatan spiritual.
Selain itu, terdapat pula Adung, sebuah tiang kayu sakral tempat pelaksanaan ritual kepahlawanan, serta Katoda, tonggak batu yang digunakan dalam ritual pertanian dan kegiatan ekonomi masyarakat adat. Tradisi ini menunjukkan betapa erat hubungan masyarakat Padabar dengan alam dan leluhur mereka.
Kisah Leluhur Umbu Kamadul
Sejarah panjang Padabar tidak dapat dipisahkan dari tokoh leluhur bernama Umbu Kamadul. Dalam cerita lisan masyarakat adat Waimanu, Umbu Kamadul dipercaya berasal dari Hindia Selatan dan melakukan perjalanan panjang hingga akhirnya tiba di Pulau Sumba.
Perjalanan tersebut melahirkan berbagai kampung adat dan kabisu atau marga di wilayah Waimanu. Kisah Umbu Kamadul dipenuhi unsur heroik, spiritual, dan mitologi, mulai dari menarik batu kubur raksasa, memahami bahasa burung, hingga perjuangan melawan musuh pada masa perang antarsuku.
Cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam identitas budaya masyarakat Padabar.
Wisata Budaya dan Spiritualitas
Mengunjungi Padabar memberikan pengalaman wisata budaya yang mendalam. Wisatawan tidak hanya menikmati panorama rumah adat dan situs megalitik, tetapi juga dapat menyaksikan langsung kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan Marapu.
Dalam berbagai upacara adat, masyarakat tetap menghadirkan Ratu Adat untuk memimpin ritual yang berkaitan dengan pertanian, pernikahan, kematian, hingga penghormatan kepada leluhur. Nilai spiritual yang kuat menjadikan suasana kampung terasa sakral sekaligus damai.
Padabar juga memiliki pohon keramat yang dipercaya memiliki khasiat pengobatan tradisional. Hingga kini masyarakat masih menggunakan bagian pohon tersebut sebagai media penyembuhan alami.
Bangkit dari Tragedi Kebakaran
Perjalanan sejarah Padabar juga menyimpan kisah duka. Pada tahun 1980-an, kebakaran hebat melanda kampung dan menghanguskan hampir seluruh rumah alang-alang beserta berbagai benda pusaka adat. Peristiwa tersebut bahkan menelan korban jiwa seorang anak kecil.
Namun semangat gotong royong masyarakat adat membuat Padabar kembali bangkit. Proses rekonstruksi dilakukan secara bertahap sejak 1982 hingga 1987 dengan tetap mempertahankan prinsip arsitektur tradisional Sumba. Meski sebagian atap rumah kini menggunakan seng sebagai bentuk adaptasi lingkungan, nilai budaya dan struktur adat tetap dijaga hingga sekarang.
Destinasi Cagar Budaya Masa Depan
Karena nilai sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan kelestarian tradisinya, Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Nusa Tenggara Timur merekomendasikan Kampung Adat dan Megalitik Padabar sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Kabupaten pada tahun 2025.
Padabar menjadi bukti bahwa tradisi leluhur dapat tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kampung adat ini bukan hanya milik masyarakat Waimanu, tetapi juga bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang perlu dijaga bersama.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya asli Sumba, Padabar menawarkan pengalaman yang tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga kaya makna sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal.
Pesona Wisata Kampung Adat Deri Kambajawa: Surga Budaya Megalitik di Sumba Tengah
Di balik perbukitan hijau Pulau Sumba yang memikat, tersembunyi sebuah destinasi budaya yang menawarkan pengalaman wisata berbeda: Kampung Adat dan Megalitik Deri Kambajawa. Berada di Desa Umbu Pabal, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, kampung adat ini menghadirkan perpaduan luar biasa antara keindahan alam, arsitektur tradisional, tradisi spiritual, dan warisan megalitik yang masih hidup hingga kini.
Tidak hanya menjadi simbol budaya masyarakat Sumba Tengah, Deri Kambajawa juga dikenal sebagai “living museum”, tempat wisatawan dapat menyaksikan langsung kehidupan adat yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Menyusuri Kampung di Atas Bukit
Perjalanan menuju Kampung Adat Deri Kambajawa menjadi pengalaman tersendiri bagi para wisatawan. Dari Kota Waibakul, perjalanan ditempuh sekitar 8 kilometer dan sesampainya di kawasan kampung adat, pengunjung akan disambut deretan rumah adat beratap menara tinggi yang berdiri megah di atas bukit batu gamping. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 535 meter di atas permukaan laut membuat suasana kampung terasa sejuk, tenang, dan sangat alami. Tebing curam serta hutan lindung di sekeliling kampung semakin memperkuat kesan eksotis dan sakral kawasan ini.
Keindahan Arsitektur Rumah Adat Sumba
Daya tarik utama Deri Kambajawa terletak pada rumah-rumah adat tradisional yang masih dipertahankan secara autentik. Rumah adat yang dikenal sebagai Uma Batangu memiliki bentuk menjulang tinggi dengan atap runcing khas Sumba.
Seluruh bangunan dibuat menggunakan material alami seperti kayu, bambu, alang-alang, dan rotan. Tidak ada kesan modern berlebihan; justru kesederhanaan inilah yang menghadirkan keindahan visual yang begitu kuat dan fotogenik.
Di bagian tengah kampung terdapat batu-batu kubur megalitik berukuran besar yang menjadi ciri khas budaya Sumba. Kombinasi rumah adat dan makam batu kuno menciptakan panorama budaya yang sangat unik dan jarang ditemukan di tempat lain di Indonesia.
Wisata Budaya dan Ritual Marapu
Berwisata ke Deri Kambajawa bukan hanya tentang melihat bangunan tradisional, tetapi juga memahami filosofi hidup masyarakat adat Sumba. Mayoritas masyarakat di kampung ini masih memegang teguh kepercayaan Marapu, kepercayaan leluhur yang menghormati alam dan roh nenek moyang.
Wisatawan yang datang pada waktu tertentu dapat menyaksikan ritual adat Purung Ta Liang Marapu, sebuah upacara sakral yang dilaksanakan setiap tahun sekitar September hingga Oktober. Ritual ini menghadirkan suasana magis melalui doa-doa adat, syair tradisional, tarian ritual, dan pembersihan benda-benda pusaka leluhur.
Nuansa spiritual yang kuat menjadikan pengalaman wisata di Deri Kambajawa terasa berbeda dari destinasi wisata biasa.
Surga Fotografi dan Wisata Edukasi
Bagi pecinta fotografi, Kampung Adat Deri Kambajawa adalah surga visual. Cahaya matahari Sumba yang dramatis berpadu dengan siluet rumah adat, batu kubur megalitik, dan lanskap perbukitan menghasilkan pemandangan yang sangat artistik.
Setiap sudut kampung menawarkan cerita budaya yang menarik untuk diabadikan. Mulai dari detail ukiran rumah adat, aktivitas masyarakat, hingga ruang terbuka adat (nata) yang menjadi pusat kegiatan ritual.
Selain wisata budaya, Deri Kambajawa juga sangat potensial sebagai destinasi wisata edukasi. Pengunjung dapat belajar tentang arsitektur vernakular Sumba, sistem kekerabatan adat, tradisi Marapu, hingga sejarah migrasi leluhur masyarakat Sumba yang diwariskan melalui syair dan cerita adat.
Harmoni Alam dan Tradisi
Salah satu pesona terbesar Deri Kambajawa adalah kemampuannya menjaga harmoni antara manusia dan alam. Masyarakat adat tetap mempertahankan pola hidup tradisional yang menghargai lingkungan sekitar. Hutan lindung dan kawasan sakral di sekitar kampung masih dijaga dengan baik sebagai bagian dari warisan leluhur.
Kehidupan yang sederhana namun penuh makna inilah yang membuat wisatawan merasakan ketenangan dan kedekatan spiritual ketika berada di kampung adat ini.
Destinasi Budaya yang Layak Mendunia
Dengan kekayaan sejarah, tradisi, dan lanskap budaya yang autentik, Kampung Adat Deri Kambajawa memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia Timur. Keaslian budaya yang masih terjaga menjadikan tempat ini bukan sekadar objek wisata, tetapi juga ruang belajar tentang identitas dan kearifan lokal Nusantara.
Mengunjungi Deri Kambajawa berarti menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Sumba menjaga hubungan antara manusia, alam, dan leluhur dalam satu harmoni kehidupan yang indah dan penuh makna.
Masyarakat Adat Sumba di Sumba Tengah umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Selain menanam padi , Masyarakat Adat Sumba di Sumba Tengah juga menanam jagung sebagai makanan tambahan. Salah satu jenis olahan makanan khas dari jagung adalah kapuda dan lebih dikenal juga dengan sebutan Kaparak. Pada zaman dahulu nenek moyang orang sumba memerlukan bahan makanan yang praktis ringan dan bisa bertahan lama dalam rangka menjawab kondisi geografis dan musim paceklik.
Bahan makanan praktis dan ringan dimaksud perlu dibawa sebagai bekal ketika pergi bekerja dikebun/sawah, berburu, atau menggembalakan ternak (sapi, kerbau dan kuda), juga sebagai bekal perjalanan ketika hendak merntau ke tempat yang jauh. Atas kebutuhan pangan praktis dan ringan itulah maka nenek moyang Orang Sumba mengolah kaparak atau kapuda dalam memenuhi kebutuhan makan secara praktis.
Secara etimologis kata kaparak berasal dari bahasa Sumba dan apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “berhamburan”. Hal ini dalam rangka mencirikan wujud fisik dari Kaparak yang berbentuk serbuk yang apabilah tidak hati-hati dikonsumsi akan berhamburan. Oleh karena itu penamaan kaparak/kapuda memiliki makna simbolis terhadap perilaku terhadap makanan dan pola makan.
Kaparak merupakan sebuah makanan khas dari Indonesia Timur khususnya Pulau Sumba dan diketahui sebagai salah satu Kuliner terkenal yang terbuat dari jagung/ beras. Walaupun secara umum kuliner lokal Sumba Tengah ini disebut kaparak namun berdasarkan jenis bahan pembuatannya terdapat dua jenis kaparak yaitu “kaparak-beras”dan “kaparak-jagung”.
Selanjutnya kaparak-beras disebut kaparak sedangkan kaparak jagung disebut kapuda. Umumnya kaparak (kaparak-beras) dikenal secara luas oleh Masyarakat Adat Sumba secara Khusus Sub-Etnik Sumba Anakalang dan Sub-Etnik Sumba Umbu Ratu Nggay karena secara geografis kedua sub-etnik tersebut memiliki lahan yang cocok untuk menanam padi sementara kapuda (kaparak-jagung) dominan diproduksi oleh Masyarakat Adat Sumba Sub-Etnik Mamboro, hal ini karena komuditi utama Sub-Etnik Mamboro adalah jagung,yang mana jagung merupakan komoditi utama dan dominan di Kecamatan Mamboro Sumba Tengah.
Bahan utama pembuatan kaparak (kaparak-beras) adalah beras sementara kapuda (kaparakjagung) adalah bulir jagung, sementara bahan utam lain yang digunakan pada kedua jenis kaparak dan atau kapuda (kaparak-beras dan kaparak-jagung/kapuda) adalah“parutan kelapa” (kelapa kering yang diparut). Sementara itu peralatan yang digunakann antara lain; alu (alat penumbuk), lesung (wadah penumbuk), batu untuk titi jagung yang disebut watu pena atau batu besar dan mani/ana pena atau batu kecil), bola/kaperu/kapipi (wadah anyaman), nyiru (tapi/alat menapis), kuali tanah/wajan tanah liat (laja)/wajan besi, sutel/sendok kayu/sendok tempurung (taku), tikar untuk menjemur (tappi) dan kiliki (kukuran/alat kukur/parut kelapa). Adapun proses pengolahan kapuda (kaparak-jagung) adalah sebagai berikut;Jagung dipanen dilanjutkan proses pemipilan (pipil jagung), selanjutnya penjemuran biji jagung dilaksanakan selama lebih kurang dua hari. Selanjutnya proses meniti (menumbuk) biji jagung, dilanjutkan tahapan mengayak/menyaring/menapis tepung jagung (memisahkan tepung jagung yang masih kasar dari tepung jagung yang halus). Sementara itu mempersiapkan juga bahan utama lain yaitu parutan kelapa melalui proses memarut/kukur kelapa yakni kulit kelapa dikuliti/dikupas dan isi kelapa diparut/dikukur.
Tahapan selanjutnya adalah mencampurkan parutan kelapa dengan tepung jagung yang sudah halus dengan takaran tertentu; yakni satu buah kelapa kualitas terbaik dengan 1 kg tepung jagung Selanjutnya proses menyangrai (sangrai) campuran tepung jagung dan parutan kelapa melalui proses; kuali/wajan diletakan di atas tungku dengan perapian sedang, kemudian campuran tepung jagung dan parutan kelapa disangrai dengah ketentuan proses mengadukaduk olahan kapuda tidak berhenti selama menyangraai sejak memulai hingga olahan kapuda matang dalam waktu lebih kurang 15 menit. Olahan kapuda yang matang akan ditandai aroma harum khas kapuda dan perubahan warna dari kreem menjadi agak coklat. Sementara proses pengolahan kaparak (kaparak-beras) adalah sebagai berikut; butiran beras yang hendak diolah menjadi kaparak perlu direndam terlebih dahulu dalam air dengan durasi waktu minimal 15 menit hingga 12 jam. Selanjutnya butiran beras ditumbuk dengan menggunakan alu di dalam lesung hingga menghasilkan tepung beras, dilanjutkan tahapan mengayak/menyaring/menapis tepung beras (memisahkan tepung beras yang masih kasar dari tepung beras yang halus).
Sementara itu mempersiapkan juga bahan utama lain yaitu parutan kelapa melalui proses memarut (kukur) kelapa yakni kulit kelapa dikuliti/dikupas dan isi kelapa diparut/dikukur. Tahapan selanjutnya adalah mencampurkan parutan kelapa dengan tepung beras dengan takaran tertentu; yakni satu buah kelapa kualitas terbaik dengan 1 kg tepung beras Selanjutnya proses menyangrai (sangrai) campuran tepung beras dan parutan kelapa melalui proses sebagai berikut; kuali/wajan diletakan di atas tungku dengan perapian sedang, kemudian campuran tepung beras dan parutan kelapa disangrai dengan ketentuan proses mengaduk-aduk olahan Kaparak tidak berhenti selama menyangrai sejak memulai hingga olahan kaparak matang dalam waktu lebih kurang 15 menit. Olahan kaparak yang matang akan ditandai aroma harum yang khas.
Pengetahuan leluhur Masyarakat Adat Sumba lainnya adalah berkenaan dengan kadar gizi jagung dan nasi. Leluhur Masyarakat Adat Sumba telah mengetahui bahwa tepung beras dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat sebagai makanan pokok yang kemudian ketika dikonsumsi akan terurai menjadi glukosa, oleh karena itu dalam pengolahan kaparak atau Kapuda, tepuk berasa dan atau tepung jagung dicampur parutan kelapa untuk menambah gizi tambahan berupa lemak nabati. Dengan demikian kuliner praktis kaparak atau kapuda secara minimal memenuhi kebutuhan gizi orang yang mengonsumsi.
Dalam pemaknaan nilai budaya olahan kuliner Kaparrak/Kappuda berkorelasi juga dengan Pranata kekerabatan dan mekanisme sosial relasional Masyarakat Adat Sumba sebagai oleholeh bagi kerabat di tanah rantau sekaligus sebagai sarana mempererat relasi kekerabatan serta pengingat bagi perantau yang berasal dari Sumba akan tempat asal yakni Tanah Marapu atau Pulau Sumba. Kaparrak atau Kapudda berfungsi dalam memenuhi gizi dan memiliki fungsi sosial dalam kehidupan bermasyarakat karena mencerminkan kearifan lokal dan sistem pengetahuan masyarakat adat Sumba dalam menemukan solusi atas tantangan kehidupan.
Daftar Pustaka.
Indamarei yeheakiel, dkk.2024. Nilai Budaya Kuliner Kaparak Dalam Kebudayaan Masyarakat Adat Sumba Di Kabupaten Sumba Tengah Nusa Tenggara Timur. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan Dan Tradisi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur, hal. 45-47.
Tari kataga berasal dari bahasa Sumba tengah, yang terdapat dua suku kata yakni ka dan taga, ka artinya mengajak dan taga artinya bersukacita, yang diartikan yakni mengajak untuk bersukacita atas kemenangan perang. Tarian kataga muncul pada penghujung abad ke 19 oleh seorang tokoh besar di Kampung Adat Kabonduk yang berlokasi di Desa Makatakeri, Kecamatan Katikutana kabupaten Sumba Tengah, yang bernama almarhum bapak Umbu Sappi Pateduk.
Kataga adalah tarian perang tradisional pria yang terinspirasi dari perang saudara pada masa lalu, mengekspresikan sebuah suka cita menang dalam peperangan tarian kataga juga menggambarkan semangat kepahlawanan, keberanian, pasca-perang,biasanya diiringi teriakan khas (pakalak), dentuman gong dan tambur, serta gerakan mengayun parang dan tameng, namun bukan karena semata-mata terinspirasi oleh perang saudara, terjadi sebuah penglihatan khusus oleh almarhum bapak Umbu Sappi Pateduk di pantai Selatan Sumba Tengah, ketika membuka lahan di sana, bertemu dengan sesosok goib dan kemudian mengajarkan tarian ini dan kemudian dikembangkan dengan bunyi-bunyi gong dan tambur yang dipertahankan hingga saat ini. Akan tetapi saat ini tari kataga yang bersifat hiburan, berfungsi sebagai penyambutan tamu penting dan bagian dari festival budaya, mencerminkan kearifan lokal dan sejarah perang suku dan saat ini persebaran tari kataga tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sumba Tengah serta tersebar di seluruh Kabupaten yang ada di pulau Sumba dan hingga sudah ada dibeberapa kota di Indonesia, seperti Kupang, Denpasar dan lainnya. Tari Kataga sangat dikenal oleh masyarakat di Kabupaten Sumba Tengah,karena tari ini merupakan salah satu tari yang dipentaskan dalam acara-acara adat di masyarakat. Menurut penuturan bapak Dadi Umbu Ngailu generasi ke tiga dari almarhum Bapak Umbu Sappi Pateduk, bahwa Tari Kataga ini merupakan symbol dari barisan prajurit yang siap siaga melawan musuh. Saat membawakan tari ini,para penari mengenakan pakaian adat lengkap, hal ini mempunyai makna “mereka bangga jika nantinya tewas dalam peperangan sudah dalam berpakaian adat, membawa harum nama kampung dan keluarga."
Tari Kataga merupakan salah satu tari tradisional Kabupaten Sumba Tengah yang memiliki nilai seni, filosofis dan historis. Nilai seni dapat terlihat dari gerakan para penari yang merupakan perpaduan seni tari dan seni perang, Setiap gerak Tari Kataga pun memiliki filosofi dan makna tersendiri yang diangkat dari sejarah masyarakat Sumba Tengah jaman dahulu sehingga kaya akan nilai historis. Tari Kataga ini terinspirasi dari gerakan yang ada dalam suatu peperangan atau perlawanan pada perang antar suku/kampung terhadap musuh saat perang tanding baik itu dari cara memotong, menangkis dan menghindar. Ada 3 elemen dasar pada peperangan yang sangat dipertahankan dalam strategi perang yaitu menyerang, bertahan, dan menghindar. Setelah perang tanding tersebut dihilangkan, maka gerakan tersebut dijadikan sebuah gerak tari yang saat ini disebut dengan Tari Kataga.
Fungsi Dari Tarian Kataga Yakni :
1. Sarana upacara adat
Tari Kataga dalam masyarakat Sumba Tengah sering dihubungkan dengan pelaksanaan upacara adat. Tari ini dipentaskan ketika ada anggota masyarakat maupun desa yang tengah melangsungkan hajatan adat, seperti : upacara kematian,upacara adat perkawinan dan upacara prosesi pembangunan rumah adat. Disaat dipentaskan pada upacara adat Tari Kataga ditampilkan dengan memenuhi persyaratan sebagaimana aturan yang berlaku dimasyarakat setempat.Dimana penari Kataga dipilih oleh tetua adat melalui proses musyawarah dengan anggota masyarakat. Disamping pemilihan penari yang melalui prosesi adat, yakni dengan musyawarah, personal penarinya pun juga dipiih dengan berpatokan pada aturan yang berlaku, dimana penari harus dalam keadaan bersih tidak sedang dalam keadaan duka. Saat pelaksanaannya pun disertai dengan rangkaian upacara yang tengah dilangsungkan, dan dipentaskan di dalam area rumah adat atau rumah warga yang sedang mempunyai hajatan. Sebelum acara pertunjukan dimulai seorang pemimpin upacara membacakan doa (mantra) dan menyiapkan berbagai sesaji yang harus dipenuhi. Tujuannya agar diberi keselamatan bagi seseorang yang sedang mempunyai hajat serta para penari dapat menarikan tarian tersebut dengan baik tanpa adanya cidera, diarenakan gerakan tarian yang memerlukan banyak tenaga serta Perlengkapan tari yang menggunakan senjata tajam. Demikian juga para penari sebelum menarikan tarian ini, harus berdoa dengan hati yang suci dan bersih. Apabila mereka mempunyai niat yang tidak baik maka dalam pertunjukan akan mengalami cidera.
2. Fungsi Sosial
Tari Kataga dalam kelompok kesenian tersebut terdapat hubungan atau ikatan yang relatif kuat di antara anggotanya yang membentuk kerukunan, kekompakan, kebersamaan dan rasa memiliki kelompok kesenian, mereka juga saling membantu apabila ada yang membutuhkan pertolongan. Pada saat mementaskan Tari Kataga akan menumbuhkan komunikasi yang baik di antara para anggotanya. Selain itu Tari Kataga juga sebagai alat yang memungkinkan anggota masyarakat melakukan hubungan sosial atau kontak sosial di antara warga masyarakat seperti memasak bersama dan memberikan makanan. Sebagai contoh dalam upacara pendirian rumah adat dimana warga setempat saling bergotong royong mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan dalam pembangunan rumah adat. Para penari Kataga ketika tidak sedang mementaskan tarian ini adalah anggota masyarakat adat setempat sehingga dengan bertemunya sesama anggota masyarakat dalam moment pembangunan rumah adat, jalinan komunikasi, interaksi terjadi dan menjadi semakin kuat. Hal ini sangat mempengaruhi ketika pementasan Tari Kataga, dimana anggota group harus mampu bergerak seirama dengan kompak. Makna yang dapat dilihat dari Tarian Kataga mencakup makna ketangguhan, makna makna kultural, makna solidaritas.
Secara harfiah, Purung Ta Liang berasal dari bahasa lokal Sumba yang berarti "Turun ke Dalam Gua". Namun, bagi masyarakat penganut kepercayaan Marapu di Sumba Tengah, ritual ini bukanlah sekadar aktivitas fisik memasuki gua. Ia adalah sebuah ziarah spiritual kolektif, sebuah momen di mana garis pemisah antara dunia manusia (dunia nyata) dan dunia leluhur (dunia roh) menjadi sangat tipis.
Filosofi Kepercayaan
Gua (Liang) dalam kosmologi Marapu dipandang sebagai rahim bumi, tempat suci yang diyakini sebagai gerbang awal keberadaan manusia pertama sekaligus tempat bermukimnya roh-roh leluhur mulia.
Harmoni Alam: Ritual ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Permohonan Restu: Inti dari Purung Ta Liang adalah memohon restu untuk keberhasilan panen, tolak bala (menjauhkan penyakit), dan kemakmuran bagi seluruh kampung halaman.
Urutan Prosesi Ritual Purung Ta Liang Marapu
Prosesi ini merupakan rangkaian panjang yang memadukan ketahanan fisik dan kekhusyukan batin. Berikut adalah tahapan-tahapan utamanya:
1. Penentuan Waktu (Hapa Lodu) Ritual tidak bisa dilakukan setiap saat. Para Rato (pemimpin adat) akan berkumpul untuk mengamati tanda-tanda alam dan posisi bulan dalam kalender adat. Biasanya dilakukan menjelang musim tanam sebagai bentuk permohonan restu agar tanah diberkati.
2. Persiapan Sesajian (Paberi Papa) Di rumah adat (Uma Bakul), disiapkan bahan-bahan sakral sebagai media komunikasi dengan leluhur. Komponen utamanya adalah Pangappa (sirih pinang) yang merupakan simbol penghormatan awal, serta penyiapan hewan kurban (ayam atau babi).
3. Ritual Pembuka di Kampung (Katoru) Sebelum menuju gua, dilakukan doa pembuka di kampung adat. Tujuannya adalah meminta izin kepada roh penjaga kampung agar perjalanan menuju gua suci diberikan keselamatan dan tidak ada aral melintang.
4. Perarakan Menuju Gua (Purung) Inilah inti dari penamaan ritual ini. Purung berarti turun. Para Rato dan rombongan berjalan kaki (seringkali menempuh medan hutan yang sulit) menuju lokasi gua suci. Selama perjalanan, biasanya suasana dijaga tetap khidmat; ada pantangan untuk tidak berbicara sembarangan atau bersenda gurau yang berlebihan.
5. Ritual di Mulut Gua (Paita Binna) Sesampainya di depan gua, dilakukan ritual kecil untuk "mengetuk pintu". Rato akan mempersembahkan sirih pinang di mulut gua sebagai tanda permisi kepada penjaga gaib gua tersebut sebelum rombongan diizinkan masuk ke area yang lebih dalam.
6. Komunikasi Inti di Dalam Gua (Lado) Di bagian terdalam gua yang dianggap paling sakral, para Rato melantunkan Lado—syair-syair kuno yang berisi silsilah keluarga, sejarah asal-usul, dan penyampaian niat kedatangan. Di sinilah dilakukan penyembelihan hewan kurban.
7. Pembacaan Tanda (Urat) Ini adalah bagian krusial. Rato akan membaca "jawaban" dari leluhur melalui hati hewan kurban atau tanda-tanda alam yang muncul di dalam gua. Melalui media ini, warga mengetahui apakah permohonan mereka diterima atau ada hal yang perlu diperbaiki dalam kehidupan bermasyarakat.
8. Perjamuan Ritual dan Kepulangan Setelah ritual selesai, dilakukan makan bersama sebagai simbol persaudaraan antar warga dan klan. Rombongan kemudian kembali ke kampung dengan membawa "kabar baik" atau petunjuk dari leluhur untuk dijalankan oleh seluruh warga desa.
Media Komunikasi: Menggunakan sirih pinang serta kurban hewan (ayam atau babi) sebagai media untuk mendapatkan petunjuk atau jawaban dari para Marapu melalui pembacaan tanda-tanda pada organ dalam hewan kurban.
Nilai Budaya dan Sosial
Purung Ta Liang bukan sekadar upacara keagamaan, melainkan fondasi sosial bagi masyarakat Sumba Tengah:
Identitas Diri: Mengingatkan generasi muda tentang akar sejarah dan silsilah keluarga mereka.
Solidaritas: Menjadi wadah pemersatu antar klan/suku (Kabihu) untuk duduk bersama dan mendoakan kesejahteraan bersama.
Konservasi Alam: Karena gua dianggap sakral, secara tidak langsung ritual ini menjaga kelestarian lingkungan hutan dan sumber air di sekitar gua dari kerusakan.
Catatan Etika Pengunjung
Bagi tamu atau peneliti yang ingin mengenal lebih dekat, area Purung Ta Liang adalah kawasan sakral. Sangat penting untuk memperhatikan aturan berikut:
Izin Adat: Dilarang memasuki area gua atau mendokumentasikan prosesi tanpa izin tertulis atau restu dari Tokoh Adat/Rato setempat.
Perilaku: Menjaga ketenangan, berpakaian sopan (diutamakan menggunakan kain adat), dan tidak memindahkan benda apa pun dari lokasi.
Kearifan Lokal: Menghormati setiap pantangan (Pamali) yang disampaikan oleh pemandu atau warga desa setempat.